Syarat Kambing Aqiqah atau Domba Aqiqah Biar Lebih Afdhol

Syarat Kambing Aiqah atau Domba Aqiqah Biar Lebih Afdhol

Syarat Kambing Aiqah

  • Hewan aqiqah mungkin jantan atau betina, tetapi yang lebih afdhol adalah jantan.
  • Istilah hewan aqiqah tidak sama dengan hewan udhiyah (hewan qurban).

  • Lebih baik memilih yang gemuk, yang besar, dan yang terbaik.
  • Jika dua kambing disembelih untuk anak laki-laki, maka biarkan dua kambing seperti yang suda berusia.
  • Masih sah aqiqah dengan hewan cacat, tetapi lebih baik jika domba aqiqah bebas dari cacat.

 

 

 

Baca juga: Hakikat Aqiqah adalah untuk menebus bayi yang telah dilahirkan

 

Saat Itu Dilakukan Aqiqah

Dilakukan pada hari ketujuh, empat belas, dua puluh satu, dapat di hari lain jika Ayah dan Bunda mampu.

  • Hari ketujuh sunnah bayi
  • Diberi nama
  • Menyunat dan menghilangkan kotoran dari dalamnya
  • Telinga dilubangi
  • Diaqiqahi
  • Rambut dicukur
  • Sedekah memberi emas atau perak seberat rambutnya

 

Cara menghitung hari ketujuh

Ulang tahun dihitung sebagai satu hari sebagai hari pertama

 

Baca juga: Paket Aqiqah Jakarta, Bebas Biaya Kirim Wilayah Jabodetabek

 

Be Alive For Yourself

Kembali ke kemampuan sang ayah ketika bayinya lahir. Jika ayahnya pada hari kelahiran adalah di antara mereka yang tidak mampu melaksanakan aqiqah, maka aqiqahnya akan jatuh, termasuk ketika ia dewasa.

 

Sedangkan jika ayah adalah orang yang cakap pada saat itu, maka bahkan sampai dewasa anak dituntut untuk menjadi antik.

Pihak yang Membiayai Aqiqah

Anak-anak memang merupakan tanggung jawab ayah mereka, dengan demikian makna qi aqiqah seorang anak juga merupakan tanggung jawab ayahnya. Namun, diperbolehkan jika ‘aqiqah didanai oleh selain ayahnya: kakek atau saudara kandungnya atau yang lain, jadi ini juga diperbolehkan.

 

Baca juga: Jasa Aqiqah Jakarta Selatan dengan Layanan Praktis dan Syariah

 

Bacaan Saat Menyembelih Kambing Aqiqah

“Bismillahi wa Allahu Akbar”.

Layak untuk memasak daging aqiqah dan tidak memberikannya di daging mentah

 

Imam Ibn Qayyim rahimahullah dalam bukunya “Tuhfathul Maudud” hal.43-44, mengatakan: “Memasak daging aqiqah termasuk sunnah.

 

Itu karena jika dagingnya dimasak, orang miskin dan tetangga tidak merasa terganggu lagi. Dan ini akan menambah kebaikan dan terima kasih atas bantuan ini. Tetangga, anak-anak dan orang miskin dapat memakannya dengan bahagia.

 

Karena orang yang diberi daging yang dimasak, siap makan, dan rasanya enak, tentu saja perasaan kebahagiaan lebih dari jika daging mentah yang masih membutuhkan lebih banyak energi untuk memasaknya.

 

Baca juga: Jasa Aqiqah Jakarta Selatan yang Jual Kambing Keperluan Aqiqah

 

Dan secara umum, makanan ucapan syukur dibuat untuk menunjukkan rasa terima kasih, dimasak terlebih dahulu sebelum diberikan atau disajikan kepada orang lain.

 

Daging Aqiqah Untuk Siapa?

Orang yang aqiqah dapat makan, memberi sedekah, memberi makan, dan menawarkan daging untuk disembelih, tetapi hal utama jika semuanya dipraktikkan

 

Imam Ibn Qayyim rahimahullah dalam bukunya “Tuhfathul Maudud” hal.48-49, mengatakan:

 

Karena tidak ada argumen dari Rasulullah tentang penggunaan atau distribusi dagingnya, kita kembali ke hukum aslinya, yaitu seseorang yang melakukan aqiqah dapat memakannya, memberinya makan, memberikan amal kepada yang membutuhkan atau memberikannya kepada teman atau kerabat dekat.

 

Tetapi yang lebih penting jika dipraktikkan semuanya, karena dengan begitu akan membuat teman-temannya senang menikmati daging, berbuat baik kepada orang miskin, dan akan mengandung rasa saling suka antara teman. Kami meminta taufiq dan kebenaran dari Allah Ta’ala.

 

Baca juga: Jasa Aqiqah di Bekasi – Spesial Nasi Kebuli Melayani Jabodetabek

 

Apakah Bayinya Meninggal Masih diaqiqah?

Menurut Syekh Ibnu Utsaimin Rahimahullah: Jika janin lahir setelah 4 bulan maka hukum itu seperti bayi yang hidup atau mati.

 

Karena jika sudah sempurna 4 bulan maka semangatnya sudah meledak. Jika lahir setelah itu, maka itu dimandikan, dikafani, dishalal dan dimakamkan di kuburan kaum muslimin, dinamai dan diaqiqahi.

 

Jika lahir sebelum rahimnya di bawah empat bulan, maka menurut Al-Lajnah ad Da’imah tidak ada aqiqah untuknya meskipun ia tampaknya laki-laki atau perempuan.

 

Pendapat Imam Malik, “Jika bayi itu meninggal sebelum hari ketujuh maka sunnah aqiqah jatuh untuk kedua orang tua

 

Apakah boleh aqiqah dan qurban bersamaan?

Jika aqiqah menentukan Idul Qurban, maka tidak sah untuk melakukan salah satunya (satu praktik dua niat). Adalah tidak sah untuk menggabungkan niat aqiqah dengan pengorbanan, keduanya harus dilakukan.

 

Karena aqiqah dan adhiyah (pengorbanan) adalah bentuk ibadah yang tidak sama jika dilihat dari segi bentuknya dan tidak ada argumen yang menjelaskan validitas melakukan salah satunya dengan niat dua praktik sekaligus.

 

Bolekah beraqiqah sebelum hari ketujuh?

Jika Ayah dan Bunda melihat validitasnya, aqiqah sebelum hari ketujuh tetap valid yang penting setelah bayi lahir. Tetapi yang baik adalah pada hari ketujuh setelah lahir karena waktunya disepakati.

 

Sumber: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementerian Agama Kuwait.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *